Seharian bersih-bersih, males rasanya, karna terlalu banyak yang harus dibereskan. Dari celana dalem yang berceceran, ikan hias yang kelaparan, rumput jepang yang tak beraturan, dan cucian perkakas yang menumpuk. Kebingungan mana dulu yang harus dikerjakan, dan akhirnya tidak mengerjakan apapun adalah keputusan yang lebih baik.
Jam dinding mati semua kehabisan batrei. Kipas angin kotor, sejak beli blum pernah dicuci. VCD ngadat. Kompor gas blum dipasang selang. Ini saatnya aku harus menunjukkan bahwa aku laki-laki.
Menurut tradisi nenek moyang kerjaan laki-laki bukanlah mengepel lantai, cuci piring, melihara bunga, atau mengelap kaca. Konon katanya lelaki itu seharusnya betulin genteng bocor, mengaduk semen, memasang saluran listrik, dan pekerjaan keras lainnya.
Hari ini aku pengen jadi lelaki. Semua perabot elektronik yang rusak kuperbaiki sendiri. Namun, eh…ternyata aku nggak punya obeng. Sudah 5 tahun tinggal di rumah sendiri masih nggak punya obeng juga. Dan setelah kupikir peralatan lambang kejantanan lainnya pun aku nggak punya, dari palu, gergaji, martil, apalagi cangkul dan sabit.
Aku bertanya kepada diriku sendiri: apakah selama ini aku laki?
Kemudian muncul pertanyaan awal: apakah sebetulnya standar dari seorang lelaki?
Banyak orang berlelucon, “Akhirnya gua menunjukkan bahwa gue laki” sambil menunjuk istrinya yang sedang mengandung. Secara tidak langsung orang itu menetapkan standar bahwa kelelakian ditunjukkan melalui kemampuan berhubungan seks dan spermanya mampu membuahi sel telur. Saya berpikir pendapat ini kurang tepat. Kemampuan berhubungan seks dan ‘membuahi’ hanyalah menunjukkan bahwa seorang itu jantan, namun bukan berarti ia laki-laki.
Menurut Alkitab laki-laki tidak pernah menunjuk pada seorang yang harus bisa bekerja kasar, atau kelelakian tidak pernah menunjuk pada ‘kejantanan’. Lelaki diciptakan lebih dahulu dari wanita karna ia adalah pemimpin rumah tangga. Pemimpin berarti penunjuk arah, dan pelindung. Hari-hari ini gerakan emansipasi sering kebablasan dan menggantikan posisi laki-laki dalam kepemimpinan rumah tangga. Memang haruslah demikian jika perempuan berkiprah di luar rumah sebagai pribadi yang setara dengan lelaki. Namun lelaki sejak awal diciptakan untuk memimpin rumah tangga, menunjukkan arah dan melindungi.
Saya pikir saya nggak perlu merasa nggak laki jika ngga punya obeng. Saya harusnya malu jika nggak bisa menjadi penunjuk arah dan pelindung. Jika saat ini saya belum menikah paling tidak saya harus bisa memimpin diri sendiri ke arah kemajuan kehidupan bagi kesenangan Tuhan. Saya laki-laki, saya pemimpin.